Nguri-uri Kebudayaan di Jawa Tengah, Hidupkan Kesenian dengan Penampilan Para Seniman Lokal

Tim iNewsSoloRaya.id
.
Senin, 03 Oktober 2022 | 11:09 WIB
DPRD Jawa Tengah memfasilitasi pementasan Wayang Golek dan Tari Jaipong Tari Gambyong, di desa Cipajang, kecamatan Banjarharjo, Brebes. Foto: ist

BREBES, iNewsSoloraya.idDPRD Jawa Tengah memfasilitasi pementasan Wayang Golek dan Tari Jaipong Tari Gambyong, di desa Cipajang, kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes Sabtu malam (1/9/2022). 

Dalam pentas kesenian tradisional tersebut, para seniman baik dalang maupun penari jaipong merupakan putra asli desa Cipajang yang merupakan seniman tradisional yang masih muda dan diharapkan menjadi pewaris kesenian tradisional di daerah tersebut.

Melalui dialog Media Tradisional Nguri-Uri Budaya Jawa Tengah, hadir sebagai pembicara Staf Ahli Fraksi Demokrat DPRD Jateng Slamet Raharjo dan Ketua Pusat Kajian Media dan Kebudayaan Dr. Teguh Hadi Prayitno, serta moderator Lana Yusriyatul Muna.

Slamet Raharjo menyampaikan kesenian tradisional sebagai jatidiri kebudayaan bangsa, harus terus dilestarikan. Oleh karana itu, pihaknya menyambut baik apa yang disampaikan Kades Cipajang dan berjanji akan menyampaikan aspirasinya ke anggota DPRD Jateng.

"Saya akan menyampaikan kepada bapak Joko Haryanto anggota Komisi E DPRD Jateng yang membidangi hal ini. Namun saya berpesan hendaknya kesenian tradisional juga dilengkapi dengan legalitas formal agar bisa mendapatkan bantuan, termasuk kesenian Sintren tersebut," ujar Slamet Raharjo.

Dengan pentas kesenian yang diikuti putra asli desa Cipajang, menjadi kebanggaan tersendiri bagi desa tersebut. Bahkan kepala desa Cipajang Takib Hilman Hakim, SH, M.KN, menyebutnya mereka adalah aset kebanggaan dari kalangan kesenian tradisional.

"Yang membanggakan kami adalah karena pementasan malam ini dilakukan oleh para seniman-seniman asal desa Cipajang. Harapannya selain menghidupkan kesenian tradisional, dengan penampilan para seniman lokal ini, ke depannya mereka bisa tampil di derah-daerah lainnya," ujar Takib.

Namun demikian, Takib Hilman Hakim juga masih menaruh keprihatinan karena masih ada satu kesenian tradisional lainnya, yaitu Sintren yang sekarang mulai punah. 

"Oleh karena itu, melalui dialog Media Tradisional yang difasilitasi oleh DPRD Provinsi Jawa Tengah ini kami berharap ada kepedulian dari pemerintah daerah maupun provinsi Jateng, untuk mendukung kembali bangkitnya kesenian Sintren yang terancam punah di desa kami," harap Takib.

Sementara itu, Teguh Hadi Prayitno sangat mengapresisasi program Media Tradisional sebagai bagian dari upaya melestarikan kesenian tradisional, karena bukan hanya ekosistem kesenian saja yang tumbuh, tetapi perekonomian masyarakat juga bergerak. Penayangan kegiatan pementasan kesenian tradisional melalui media televisi, radio dan online juga menambah banyak dokumentasi kesenian, yang merupakan bagian dari torehan sejarah.

"Malam ini terlihat jelas, ratusan masyarakat antusias menyaksikan pementasan wayang golek dan tari jaipong. Selain menikmati hiburan gratis, mereka juga menjadi pembeli dagangan para penjual yang sengaja berjualan khusus pada pementasan ini" ujar Teguh.

Selain itu, Teguh juga berpesan agar kesenian tradisional bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi, terutama di era digitalisasi sekarang ini. Sehinga bukan hanya pentas langsung di tengah masyarakat, tetapi juga masuk di  media sosial.

Editor : zainal arifin
Bagikan Artikel Ini