Kita adalah Makelar Video Mesum Artis dan Selingkuh Mertua Menantu

Abi Langit
.
Selasa, 24 Januari 2023 | 06:31 WIB
Viralnya selingkuh mertua dan menantu. Foto: Istimewa

HAL-HAL negatif menyergap kita tiap hari, menelikung dari depan, samping atau belakang. Betapa pun gesitnya kita mengelak, tak kuasa juga, dan tetap  teterpa.

Dan itulah yang kini kita hadapi, menerima dan juga mengonsumsi aktif hal buruk itu, dan tanpa sadar menjadi inang pengasuh yang paling baik. Kita bukan saja menerima, tapi juga merawat, membesarkan, dan setelah itu membantu menyebarkannya agar semua orang juga sama seperti kita, terinveksi hal buruk itu. Sungguh labirin yang tak berkesudahan.

Kita dalam labirin kronologis itu, seakan bertanya dan menunggu: habis ini apa ya? Pasti ada lagi. Dan celakanya, harapan itu pun terpenuhi.

Dari ‘’jebakan’’ berita kekerasan rumah tangga, yang ini juga terus saja terjadi dan terviralkan karena konsumsi netizen yang luar biasa, kita kemudian memamah yang lebih menjijikkan lagi, berita video mesum berganti peran, dan kemudian perselingkuhan menantu dan mertua. Kita, tanpa menyadarinya, justru merayakan diri dalam penjara wabah moral yang luar biasa itu.

Mentsunamikan Negativitas

SETELAH KDRT Lesti dan Billar, yang menyita perhatian netizen, terbelah jadi dua kubu dan keduanya berakhir dengan kecewa ketika Lesti dan Billar memilih berdamai, jagad pemberitaan kita selalu viral oleh hal-hal buruk. Ini memang simulakra yang sudah menggejala dari awal.

Ya, dunia media sosial kita memang amat rentan dengan berita negatif, seperti spon yang menyerap air. Apapun berita negatif, akan direspon dengan amat lugas, dan viral dengan kecepatan cahaya. Sehingga, yang bukan netizen aktif, akan tergagap-gagap mendapatkan notifikasi atau serbuan kebobrokan itu.

Habis KDRT Lesti-Billar, kini viral juga KDRT Eks Petinggi OVO dan Lazada Raden Indrajana Sofiandi dengan istrinya Keyla Evelyn Yasir dan anak-anaknya. Jika video Lesti-Billar tak disertai narasi, lebih pada situasi setelah KDRT, video yang dibagikan Keyla justru sebaliknya, menjadi bukti valid KDRT itu, sehingga karena unsur kekerasannya yang amat kental, instagram sampai menanggalkan postingan itu.

Netizen pun tersulut emosi, dan mengulik sosok Indrajana, dan memberikan opini yang sangat amat nyelekit dan pedasss. Postingan Keyla pun dibagikan, dirayakan dengan segala pernik hujatan dan lainnya, dan mendapatkan atensi karena para aktris dan selebgram pun ikut mengomentari.

Viral? Pasti. Polisi begerak? Ya.

Kalau sudah viral, tentu polisi bergerak. Itu juga yang dikatakan Keyla karena pengaduannya sudah masuk sejak September 2022, dan tak ada kelanjutan sampai kasus itu kemudian membanjiri media sosial.

Cukup? Tidak. Dari kasus KDRT banjir medsos masih menampung arus yang lebih deras lagi, berita mesum. Maka, kronos itu pun menjadi labirin tak berkesudahan. Viral kebaya merah, muncul kebaya hijau (plus dengan segala macam video parodinya), lalu terebar juga video mesum ‘’mirip’’ Rizky Aditya, dan juga mirip suami Via Valen.

Trending? Pasti.

Twiiter penuh dengan percakapan itu, bahkan banyak yang mencari video sang artis, dan mencoba mencocokkan apakah benar itu video mereka, dengan sebagian lagi menyerbu akun istri sang aktor, dan memberi pesan agar bersabar.

Ajaib, ya?

Jangan heran jika nanti akan ada juga video kebaya kuning, kebaya putih, atau jingga. Karena tanpa sadar, telah ada ‘’pasar’’ untuk video kebaya tanggal ini.

Dan hari-hari ini, kita dikumuhi oleh berita perselingkuhan menantu dan mertua, yang diketahui sang istri. Petaka moral ini mendapatkan daya letup yang luar biasa, viral seperti tsunami, bahkan langsung menjadi pemberitaan di televisi.

Agen Keburukan

KITA dapat apa dari tsunami keburukan itu? Kita mendapatkan apa dari ikut merawat dan menyebarkan berita-berita supernegatif itu?

Apakah sumpah serapah, kutuk dan ejekan, istighfar dan segudang harapan yang kita taja di halaman-halaman medsos adalah aktivitas yang berguna?

Ya, itu akan melegakan.

Ya, karena dengan mengutuk, kita telah meletakkan diri dalam posisi yang tak memihaki keburukan itu.

Ya, dengan menjadi pengutuk keburukan itu, kita akan terbentengi.

Tapi, bisa jadi juga sebaliknya. Dengan mengutuk, mengomentari, kita membantu ketakbermoralan itu mendapatkan ruang yang lebih luas di dunia maya, di beranda orang banyak.

Dengan semua komentar kita itu, kita membuat kebejadan itu jadi memiliki waktu tayang yang lebih lama di dunia maya, dengan kepopuleran yang terjaga.

Dengan keviralannya, akan terbentuk ‘’pasar negatif’’ dan konsumen negatif yang aktif, dan menunggu terus hal-hal serupa terjadi, dan juga memanfaatkannya. Maka, lihatlah, telah muncul akun-akun baru atas nama si menantu alias suami Norma, alias Rozi, yang dengan segera langsung populer, diikuti oleh banyak orang, meski dengan tujuan untuk memaki dan memarahi saja.

Lihatlah ruang-ruang publik kita, diasapi oleh cerita mertua menantu dengan segala gelengan kepala. Ikuti saja grup-grup keluarga, juga dibakar oleh cerita mertua menantu itu, dengan segala hiperbolanya. Dari yang menghina, menghujat, sampai yang diam-diam ikut berfantasi dengannya.

Di balik segala hujatan dan kejengkelan itu, apa yang kita dapatkan?

Tidak ada kan?

Dalam hitungan hari, nanti kita akan terjebak dalam hal baru lagi, dengan intensitas yang lebih buruk lagi. Seperti kita melupakan kebaya merah untuk terjebak kebaya hijau. Seperti kita melupakan KDRT Lesti, untuk terperangkap di KDRT Keyla. Begitu terus.

Kini ini objek yang tak sadar, dan menganggap diri sebagai subjek, pengendali dari semua informasi itu.

Kita ini sebenarnya sudah menjadi robot yang seperti wajib memamah sampah-sampah itu, dan mendaurulangnya dengan segala pernik agar sampah itu juga dikonsumsi orang lain.

Kita, tanpa sadar, justru menjadi agen dari semua keburukan itu.

Agen yang memilih cara terbalik, memopulerkan dengan cara, seakan, membenci dan bersebarangan. Agen yang membuat keburukan itu terus saja menjadi wajah media sosial kita, membuat kita dipaksa untuk menoleh terus pada hal-hal buruk.

Dan, kenapa, kenapa kita tidak melakukan hal yang sama untuk hal-hal baik? Untuk anak bangsa yang juara azan, untuk mereka yang berprestasi?

Ya, betul, untuk anak bangsa yang berprestasi juga sudah diviralkan, tapi apakah dengan tenaga dan euforia yang sama? Dengan semangat gosip dan ghibah yang senada? Dengan komentar dan membagikan ke berbagai grup dengan effort yang juga semenggelegak seperti berbagi hal buruk?

Anda yang tahu jawabnya, Anda yang akan dapat menentukan juga apakah akan terus menjadi agen keburukan atau berubah untuk menjadi pewarta kebaikan.

Editor : zainal arifin

Follow Berita iNews Soloraya di Google News

Bagikan Artikel Ini